Review Film - Joker (2019) | Depresi, Derita, Penolakan dan Mental Illness - Maguma ID | Portal J-Pop Culture dan Geek Stuff

Post Terbaru

Maguma ID | Portal J-Pop Culture dan Geek Stuff

Portal J-Pop Culture & Geek Stuff

test banner

Post Top Ad

SafelinkU | Shorten your link and earn money

Post Top Ad

SafelinkU | Shorten your link and earn money

Saturday, October 5, 2019

Review Film - Joker (2019) | Depresi, Derita, Penolakan dan Mental Illness

FILM INI GAK BIKIN BAHAGIA! TAPI MEMUASKAN!

Maguma ID Review - Hai Magumers! Film Joker dari Warner Bros dan DC sudah tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 2 Oktober 2019, yang mana membawa hype tersendiri khususnya untuk para penggemar karakter villain paling terkenal di dunia ini.

Jadi hari ini aku akan memberikan ulasan tentang film yang mengisahkan origin karakter penjahat paling ikonik di dunia yaitu The Joker dengan filmnya yang berjudul Joker (2019). Sebelumnya, hampir setiap ulasan yang saya liat dari forum-forum atau reviewer film, film ini selalu mendapat rating yang sempurna, rata-rata 9-10. 

Aku sendiri sejak nonton trailernya juga sudah yakin kalau ini film bakalan bagus, tapi nggak untuk semua orang. Jadi inilah ulasanku tentang film Joker karya Todd Philip, tentunya tanpa spoiler.

Gambar terkait

Bercerita tentang Arthur Fleck yang merupakan seorang pria yang berkeja di agensi hiburan sebagai badut penghibur atau badut untuk promosi yang membawa plang. Kemudian dia mengalami penderitaan dan sebagainya kemudian dia bertransformasi menjadi Clown Prince of Gotham.


Gambar terkait

Gila sih ini film bener-bener gila, mungkin ini bakal jadi film terbaik tahun ini. Mulai dari depresi, penderitaan, penolakan, delusi, semuanya akan kalian dapatkan di film ini. Ini film mengenai seseorang yang memiliki mental illness atau penyakit kejiwaan yang diperparah dengan lingkungan sekitar yang nggak peduli sama sekali akan hal itu, dan itu mampu membuat orang yang sebenarnya baik bertransformasi menjadi sosok yang keji.


Gambar terkait

Okey, dimulai dari premis-nya udah keren banget dan langsung membuat penonton bersimpati sama karakter Arthur Fleck ini. Adegan awal sudah sangat kuat untuk memulai cerita, dimana kita ditunjukkan dengan sosok manusiawi dari Arthur Fleck yang mengalami penderitaan, namun tetap berusaha tersenyum.


Hasil gambar untuk joker (2019)

Plotnya sendiri bagus, dibumbui dengan twist yang nggak terduga. Plot berjalan secara perlahan untuk menambah simpat penonton ke Arthur Fleck. Ini merupakan film origin Joker yang benar-benar baru dan fresh, dan ngomong-ngomong ini bukan film superhero atau action seperti film DC lainnya, tapi film Thriller yang berkaitan dengan psikologi juga, Jadi film ini nggak cocok untuk semua orang terutama yang sedang punya mental illness.


Hasil gambar untuk joker (2019)

Aku sangat terpukau dengan pendalaman karakter dari Joaquin Phoenix sebagai Joker yang benar-benar totalitas. Terlihat bagaimana tubuhnya yang dibuat kurus untuk mendalami karakter, sampai ketawa-nya yang khas dan yang terbaiknya adalah gerakannya yang ikonik banget dan bikin merinding terutama saat bertransformasi menjadi Joker.


Hasil gambar untuk joker (2019) murray franklin

Di film ini kita akan mendapatkan karakter sampingan seperti Murray Franklin (sosok idola dari Arthur Fleck), Sophie Dumond (Janda yang ditaksir Arthur, yang tapi ternyata .... ), Penny Fleck (Ibunya Arthur) lalu ada Thomas Wayne (Politic asshole kota Gotham).


Hasil gambar untuk joker (2019) on bus

Best part dari film ini menurutku adalah ketika di bus dimana Arthur tak bisa mengontrol ketawanya dan membuat seisi bus bingung, padahal dia tertawa bukan karena keinginannya tapi karena mental illness yang dideritanya yaitu pseudobulbar affect (dimana ketawanya tak bisa dikontrol, meski dalam keadaan sedih ataupun marah) disaat itu juga aku dalam hati ngerasa prihatin dan sedih.


Hasil gambar untuk joker (2019) on bus

Film ini benar-benar mampu mendeliver cerita origin Joker yang cukup kuat dan beralasan, dimana sosok yang keji terlahir dari orang baik yang ditindas, disepelekan, tanpa adanya support dari sekitar serta mengidap mental illness. Di sepanjang film penonton selalu dibuat bersimpati dengan Joker meskipun saat dia melakukan tindakan kejam (aku merasa bingung harus dukung Joker atau nggak). Karena Joker juga di sini milih-milih dalam bunuh korbannya, gak membabi buta.


Hasil gambar untuk joker (2019) on bus

Tone di film ini juga khas banget dengan citra DC yang dark dimana sinar matahari hanya muncul sedikit di film ini, selebihnya bertone muram dan kelam. Film ini juga disisipi banyak sekali metafora misalnya kepompong, dimana Arthur masuk ke kulkas dan bertransformasi menjadi Joker.

Sedikit spoiler tentang endingnya yang sudah cukup kuat untuk menjadi pembukan jagat DC, dimana kita melihat keluarga Wayne mati dirampok. Aku sendiri si berharap film ini bisa berlanjut dengan The Batman-nya Robert Pattinson. Tapi sayangnya katanya ini film DC Black Label dimana berdiri secara sendiri (Standalone).


Hasil gambar untuk joker (2019) on bus

Overall Joker adalah film yang sangat bagus, dan sangat direkomendasikan apabila mood lagi bagus atau lagi bahagia. Kalau sedang depresi sebaiknya jangan dulu ya, soalnya ini film bisa mempengaruhi mental, apalagi kalau ada orang yang kisahnya lebih kelam dari Arthur Fleck. Dan yang paling penting "STOP" bawa anak kecil buat nonton film berating 17+ meskipun ada orang tuanya -_- karena dikhawatirkan mental anak bisa terganggu.







"All you need is one bad day and mental illness, to become the Joker"

"The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t"



MY PERSONAL RATING
10/10

IMDB 
9.1/10

Follow Instagram: @meteometa, untuk update karya dariku :)


No comments:

Post a Comment