Review Film - Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot (2019) - Maguma ID | Portal J-Pop Culture dan Geek Stuff

Post Terbaru

Maguma ID | Portal J-Pop Culture dan Geek Stuff

Portal J-Pop Culture & Geek Stuff

test banner

Post Top Ad

SafelinkU | Shorten your link and earn money

Post Top Ad

SafelinkU | Shorten your link and earn money

Sunday, September 1, 2019

Review Film - Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot (2019)


Maguma ID Review - Jagad Sinema Bumi Langit telah resmi dibuka dengan hadirnya film Gundala - Negeri Ini Butuh Patriot. Tentunya dengan hadirnya film Gundala, mampu membawa angin segar dalam industri film Indonesia biar gak monoton kalo nggak drama, romantis ya horor. Makanya biar Indonesia terus mampu membuat film yang segar, kita harus selalu dukung genre yang antimainstream.

Sedikit cerita soal Gundala, project film ini awalnya dipegang oleh Hanung Bramantyo pada tahun 2015 dan bahkan sudah memperlihatkan teasernya, namun sayang akibat perbedaan visi akhirnya project ini lepas dan jatuh ke tangan sang maestro horor Indonesia yakni Joko Anwar. Oke jadi hari ini saya akan mengulas mengenai film Gundala dan mungkin tulisan ini mengandung spoiler jadi berhati-hatilah.


ALUR CERITA

Jadi film ini bercerita tentang seorang anak buruh pabrik bernama Sancaka. Kemudian dia bertemu dengan seorang remaja bernama Awang dan melatihnya bela diri. Kemudian cerita berlanjut saat Sancaka dewasa, dia menjadi satpam di sebuah perusahaan percetakan koran. Kemudian suatu hari dia tersambar petir dan mampu memanfaatkannya. Dan membuatnya menjadi seorang pembela keadilan karena sejak kecil dia selalu melihat ketidakadilan. Itu alur cerita yang dibawa oleh Sancaka.

Lalu ada juga alur cerita yang dibawakan oleh sang villain yakni Pengkor bersama dengan anggota legislatif pemerintahan. Lalu ditambah lagi cerita sampingan soal Ghazul yang ternyata sedang mengincar sesuatu yang lain.



Menurutku film ini memiliki alur cerita yang lumayan, akan tetapi kebanyak subplot misalnya kaya yang saya sebutin diatas. Yah sebenernya sih gapapa, kalau porsinya pas terus diberi kejelasan justru itu makin jadi bervariasi. Tapi sayangnya film ini terlalu banyak mengangkat hal yang berpotensi jadi subplot akan tetapi pada akhirnya cuma jadi wacana aja tanpa ada kejelasan.

Hal yang sangat disayangkan adalah, mereka menyia-nyiakan karakter bagus seperti anak buahnya Pengkor. Mereka padahal bagus buat disimpen di film berikutnya, akan tetapi lebih memilih untuk sedikit dikenalkan di sini meski hanya sebatas "numpang gelud" tanpa ada kejelasan gimana nasibnya. Misalnya kaya Camar & Tanto Ginanjar cuma numpang gelud aja.



Saya sangat menikmati tiap detik dari film ini. Tegangnya lumayan dapet, seru juga selain itu film ini makin enjoyable dengan diselipkannya jokes receh dari karakter terdekat Sancaka. Banyak yang berpendapat kalau film ini  terdapat banyak plot hole, saya pun berpendapat begitu. Tapi meski begitu saya sendiri masih tetap bisa enjoy dengan film ini. Karena franchise ini akan dibuat berkepanjangan makanya masih banyak menyisakan pertanyaan.

Disini Gundala bukanlah sebagai sosok superhero namun sebagai sosok Jagoan yang mengikuti nuraninya untuk memberantas ketidakadilan, makanya disini lebih ditonjolkan sosok kemanusiaan dari Gundala.



SCORING, SINEMATOGRAFI & EFEK VISUAL (CGI)

Soal ini dijamin keren banget terutama pas adegan geludnya Gundala, scoringnya bikin merinding sekaligus takjub, momennya selalu pas.

Menurutku sinematografi-nya sendiri sudah cukup oke, tapi sepertinya mereka pelit untuk mengambil gambar dari angle yang lebih luas. Padahal bakal keren kalo pas adegan silatnya dari jarak jauh dan jarak dekat.



Disini film ini lebih banyak ditunjukkan adegan tarung memakai seni bela diri silat, jadi kita berasa nonton film The Raid, tapi itu saya suka, koreografinya oke banget. Disini jarang diperlihatkan Gundala memakai kekuatan petirnya, mungkin untuk menghemat scene ber-CGI. Tapi kalo menurutku sih itu karena Gundala belum sepenuhnya sadar dan bisa mengendalikan kekuatannya.

Untuk visual efek/CGI menurutku udah sangat bagus untuk sekelas film Indonesia, meski di beberapa adegan masih terkesan kasar tapi ini udah bagus.



KARAKTER

Porsi karakter utama di sini sudah memiliki porsi yang pas. Abimana di sini terlihat cocok dan mendalami banget perannya sebagai Sancaka. Untuk Wulan yang nantinya bakal jadi love-interest Sancaka juga sudah mendapat porsi yang pas.

Saya cukup suka dengan bagaimana cara mereka membuild-up karakter Sancaka dari kecil yang memiliki masa lalu kelam. Dari babak 1 udah bagus banget, tapi di babak 2 menuju babak 3 malah udah berhenti dan terkesan terburu-buru mengejar ending.

Untuk main villain-nya sendiri yaitu Pengkor menurutku masih kurang jelas motivasinya soal melakukan tindakannya. Impactnya pun gak begitu berasa, malah terkesan lemah. Dalam komiknya Pengkor dikenal sebagai sosok yang cerdas dan licik, tapi di filmnya kurang diperlihatkan, malah terkesan seperti villain biasa. Pembawaan Bront Palarae sebagai Pengkor sudah cukup lumayan meski masih terkesan kaku, mungkin karena dia ini aktor Malaysia.

Nah ngomong-ngomong soal karakter, tampaknya Bumilangit terlalu ambisius untuk mereveal banyak karakter bagus yang berpotensi untuk jadi villain di film selanjutnya yang sebenernya gak perlu dimunculkan. Soalnya sayang banget muncul cuma buat gelud sama Gundala, abis itu kejelasan nasibnya gak tau.

Justru yang menjadi karakter di film ini adalah Ghani Zulham alias Ghazul, di sini dia bagaikan seorang mastermind, dia tampak tahu akan segalanya. Pembawaannya yang santai namun cerdas mampu membuat penonton tertarik kepadanya. Terutama pada bagian akhir film, dia tahu soal Gundala dan mampu membangkitkan seseorang yang berpotensi jadi villain di film Gundala - Putra Petir.



KESIMPULAN

Gundala merupakan sebuah awal yang bisa dibilang bagus untuk membuka project film berkepanjangan dari Jagad Bumi Langit. Sebuah sesuatu yang baru ditengah banyaknya film indo yang hanya mengandalkan genre drama, romantis atau horor. Film ini harus kita dukung, kenapa? Karena ini bakal berimpact sama film-film selanjutnya, kalo film ini sukses pasti film lainnya juga bakal dibuat lebih bagus lagi.

Jujur saya suka banget sama kostum Gundala yang gak terkesan murahan, keliatan homemade but it's dope. Wajar aja sih soalnya kostum ini dibuat di Amerika, di tempat yang menjadi tempat pembuatan kostum serial Marvel Netflix, Daredevil.

Sedikit spoilernya di sini saya suka banget sama cameo Sri Asih di scene yang tak terduga, tiba-tiba muncul dan "ddduaaarrr ..", gila sih itu keren banget. Oh iya jangan pulang dulu soalnya ada post credit scene buat film Jagad Bumilangit berikutnya.


SKOR: 8/10



BONUS FANART DARI SAYA



No comments:

Post a Comment